
Rokan Hilir,Derap1News – Letak geografis daerah tidak semestinya menjadi tembok yang membatasi lahir dan berkembangnya gagasan. Dari Rokan Hilir, semangat itu coba dibuktikan Presiden Mahasiswa Institut Teknologi Rokan Hilir (ITR), Egi Febrian, dengan membangun komunikasi dan jejaring bersama sejumlah tokoh nasional, termasuk Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo.
Bagi Egi, jejaring tersebut bukan semata-mata tentang pertemuan dengan figur nasional, tetapi menjadi ruang untuk memperluas wawasan, bertukar perspektif serta membuka akses pengetahuan yang dapat dikonversikan menjadi gagasan dan kontribusi bagi pembangunan daerah.
Komunikasi dengan tokoh nasional itu juga menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa agar tidak terjebak dalam perspektif bahwa kampus yang berada jauh dari pusat kekuasaan dan pusat pertumbuhan nasional harus memiliki ruang gerak yang terbatas.
Di tengah perubahan sosial, ekonomi dan teknologi yang berlangsung cepat, mahasiswa dituntut tidak hanya mampu membaca persoalan masyarakat, tetapi juga memiliki keberanian untuk menawarkan gagasan dan alternatif solusi yang konstruktif.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual untuk membaca realitas, mengkritisi persoalan, sekaligus menawarkan gagasan. Karena itu, jejaring harus dibangun seluas mungkin agar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat dikonversi menjadi kontribusi nyata bagi daerah,” ujar Egi usai pertemuan di kediamannya di Solo ,Senin 10 Agustus 2026.sekira pukul 16.00 Wib
Menurutnya, pembangunan Rokan Hilir membutuhkan paradigma kolaboratif yang menempatkan mahasiswa dan pemuda sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.
Kolaborasi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat dan berbagai elemen strategis dinilai menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun ekosistem pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Rokan Hilir, kata Egi, memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar. Namun, potensi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya. Diperlukan kapasitas generasi muda yang mampu mengelolanya melalui pendekatan berbasis pengetahuan, inovasi, teknologi dan kolaborasi.” Ujarnya .
Dalam konteks itu, membangun jejaring dengan tokoh nasional tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai persoalan kedekatan personal. Lebih jauh, jejaring merupakan ruang belajar untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan dan perspektif dari berbagai lingkungan.
Mahasiswa daerah, menurut Egi, perlu memiliki keberanian untuk masuk ke ruang-ruang strategis sehingga perspektif daerah tidak hanya menjadi penonton dalam diskursus pembangunan nasional.
“Kampus boleh berada di daerah, tetapi cara berpikir tidak boleh terkungkung oleh batas geografis. Kita harus mampu membawa perspektif Rokan Hilir ke ruang nasional, sekaligus membawa wawasan nasional kembali untuk membangun daerah,” tegasnya.
Egi menilai kemajuan daerah tidak mungkin dibangun oleh satu kelompok atau institusi saja. Diperlukan orkestrasi lintas sektor yang mempertemukan kapasitas akademik, pengalaman kepemimpinan, kebijakan publik, teknologi serta kekuatan masyarakat sipil.
Karena itu, mahasiswa dan pemuda Rokan Hilir didorong membangun budaya intelektual yang lebih progresif. Bukan hanya aktif dalam ruang akademik, tetapi juga berani membaca persoalan secara kritis, memperluas jejaring, meningkatkan kompetensi dan mengubah gagasan menjadi kerja nyata.
Bagi Egi, keberadaan kampus di daerah bukan alasan untuk membatasi mimpi dan gagasan. Sebaliknya, kampus daerah dapat menjadi titik berangkat untuk melahirkan pemikiran yang mampu menembus batas wilayah dan ikut mewarnai percakapan pembangunan di tingkat nasional.
“Ukuran kemajuan sebuah institusi bukan semata-mata seberapa besar ruangnya, tetapi seberapa jauh gagasannya mampu memberi pengaruh bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, membangun Rokan Hilir pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai pembangunan fisik dan pengelolaan sumber daya, tetapi juga tentang mempersiapkan manusia yang akan menentukan masa depan daerah.
Mahasiswa dan pemuda menjadi bagian penting dari generasi tersebut. Karena itu, penguatan kapasitas intelektual, keberanian membangun jejaring dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat menjadi modal penting untuk membawa Rokan Hilir ke arah yang lebih maju.
“Kita ingin membangun generasi yang tidak hanya memiliki gelar akademik, tetapi juga memiliki kapasitas berpikir, keberanian berjejaring, dan keberpihakan terhadap kemajuan daerah. Dari Rokan Hilir, kita ingin menunjukkan bahwa gagasan daerah juga memiliki tempat dalam percakapan besar tentang Indonesia,” pungkas Egi.




Komentar