Sosial
Beranda / Sosial / Dari Tanah Jantan Membela Hutan, Merekam Konsistensi Dr. Elviriadi Membela Rakyat dan Lingkungan

Dari Tanah Jantan Membela Hutan, Merekam Konsistensi Dr. Elviriadi Membela Rakyat dan Lingkungan

RIAU,Derap1News – Perjuangan menjaga kelestarian hutan dan membela hak-hak masyarakat tidak cukup hanya dengan retorika. Dibutuhkan keberanian, konsistensi, dan kesediaan untuk turun langsung mendampingi warga yang berhadapan dengan persoalan lingkungan maupun kepentingan korporasi. Pesan itulah yang mengemuka dalam buku Dari Tanah Jantan Membela Hutan, karya Dr. Elviriadi.

Buku yang diterbitkan Asa Riau melalui CV Asa Riau pada 2026 ini merekam perjalanan, pemikiran, serta kiprah Elviriadi dalam memperjuangkan lingkungan hidup dan hak masyarakat. Melalui 156 halaman, pembaca diajak mengenal sosok yang dikenal sebagai “Budak dari Selat Panjang”, dengan prinsip teguh untuk tidak menggadaikan idealisme demi kepentingan korporasi.

Salah satu ungkapan yang dikutip dalam buku tersebut menjadi gambaran sikapnya: “Lebih baik makan nasi dengan garam daripada menerima oleh-oleh dari korporasi hitam.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Dalam konteks perjuangan lingkungan, ungkapan tersebut menegaskan pentingnya menjaga independensi, terutama ketika kepentingan masyarakat berhadapan dengan kekuatan ekonomi perusahaan.

Bukan Sekadar Biografi, tetapi Rekaman Perjuangan

Polda Riau Gagalkan Peredaran 34,9 Kg Sabu, Lima Tersangka Ditangkap

Disusun oleh Zurkarnain dan diresensi oleh Zurfami, buku ini tidak disajikan sebagai biografi kronologis yang kaku. Sebaliknya, kisah Elviriadi dirangkai melalui testimoni dan kesaksian puluhan tokoh yang pernah mengenal atau berjuang bersamanya.

Ragam kesaksian tersebut menggambarkan kiprahnya dalam mengadvokasi hak atas lahan masyarakat, mengkritisi kerusakan hutan, menyoroti pencemaran daerah aliran sungai (DAS), serta mempersoalkan dampak limbah perusahaan terhadap lingkungan.

Baca Juga  IPK Medan Deli Resmi Dilantik, Darwin Lubis: Bangun Citra IPK Lewat Karya dan Etika

Perjuangannya juga tidak terbatas pada forum diskusi dan seminar. Gagasan serta pandangannya disuarakan melalui tulisan di media massa dan keterlibatannya sebagai saksi ahli dalam persidangan yang berkaitan dengan persoalan lingkungan.

Sejumlah tokoh turut memberikan kesaksian dalam buku ini. Azizon Nurza mengangkat tema “Dr. Elviriadi: Konsisten di Garis Rakyat”, sementara Brigjen TNI (Purn) Edi Natar Nasution menulis “Merubah Ketidakadilan dengan Bismillah”.

Satria Antoni, Ph.D., melalui tulisannya “Pejuang Tanpa Tanda Jera, Intelektual Organik dari Bumi Lancang Kuning”, turut menyoroti peran Elviriadi sebagai intelektual yang berupaya menghubungkan gagasan dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Kapolda Riau Ajak Wartawan Perkuat Sinergi, Berantas Narkoba hingga Cegah Konflik Sosial

Kesaksian lainnya datang dari Hendrio Efriawan, Jhoni Mundung, Muhammadun, Zainuddin Syafie, Guswanda Putra, Buya Syafulah, Masriadi, H. Mambang Mit, Pengurus FKPMR, hingga Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan.

Keberagaman latar belakang para penulis kesaksian membuat buku ini menawarkan beragam sudut pandang mengenai sosok dan kiprah Elviriadi.

Kesederhanaan di Tengah Perjuangan

Salah satu sisi yang menonjol dalam buku ini adalah gambaran kehidupan Elviriadi yang sederhana. Ia dikisahkan bersedia bepergian menggunakan travel, makan di warung sederhana, hingga menginap di tempat seadanya demi mendampingi masyarakat.

Di tengah kesibukannya sebagai dosen UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, ia tetap menjalankan aktivitas sebagai akademisi, aktivis lingkungan, dan saksi ahli di pengadilan.

Residivis Kasus Narkoba, Ervan alias Upan Divonis 3 Tahun Penjara oleh PN Rohil

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan membela masyarakat tidak selalu berlangsung di ruang-ruang formal. Tidak jarang, kerja advokasi menuntut kehadiran langsung di lapangan, mendengar keluhan warga, menelusuri persoalan, serta menyampaikan kritik terhadap kebijakan atau praktik yang dinilai merugikan masyarakat dan lingkungan.

Baca Juga  Pemko Pekanbaru Tegas Cegah Aktifitas LGBT di Kafe Laksamana Muda

Salah satu isu yang mendapat perhatian ialah hak plasma sebesar 20 persen bagi masyarakat di sekitar perusahaan perkebunan kelapa sawit pemegang hak guna usaha (HGU). Persoalan ini penting karena berkaitan dengan akses masyarakat terhadap manfaat ekonomi dari kegiatan perkebunan yang berlangsung di sekitar tempat tinggal mereka.

Dalam konteks Riau, isu tersebut bersinggungan langsung dengan keadilan sosial, tata kelola perkebunan, serta hubungan antara perusahaan dan masyarakat setempat.

Kekuatan dan Catatan Kritis Buku

Dari sisi penyajian, kekuatan Dari Tanah Jantan Membela Hutan terletak pada pendekatan personal dan beragamnya kesaksian. Pembaca tidak hanya diperkenalkan pada gagasan Elviriadi, tetapi juga memperoleh gambaran tentang bagaimana orang-orang yang mengenalnya memandang konsistensi dan perjuangannya.

Tema keberpihakan kepada masyarakat, integritas, dan kepedulian terhadap lingkungan juga tetap relevan di tengah persoalan kerusakan hutan, pencemaran, konflik lahan, dan tuntutan terhadap tanggung jawab perusahaan.

Meski demikian, penggunaan alur nonkronologis menjadi catatan tersendiri. Pembaca yang baru mengenal Elviriadi mungkin perlu menyusun sendiri urutan waktu perjuangannya agar memperoleh gambaran perjalanan hidup yang lebih utuh.

Penyajian linimasa atau penanda waktu yang lebih sistematis dapat membantu pembaca memahami perkembangan pemikiran, aktivitas, dan berbagai persoalan yang pernah dihadapinya.

Baca Juga  Munas III Hapkido Indonesia: GBPH Prabukusumo Terpilih Aklamasi hingga Penerapan Aturan Tegas Anti Pelecehan Seksual

Namun, karakter buku sebagai kumpulan kesaksian juga memberikan ruang bagi pembaca untuk melihat sosok Elviriadi dari perspektif yang berbeda-beda, bukan hanya melalui satu narasi tunggal.

Menjaga Hutan, Menjaga Masa Depan

Pada akhirnya, Dari Tanah Jantan Membela Hutan tidak hanya berbicara tentang perjalanan seorang aktivis. Buku ini juga mengangkat pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana keberanian, integritas, dan konsistensi diperlukan untuk membela kepentingan masyarakat ketika berhadapan dengan persoalan lingkungan?

Buku karya Dr. Elviriadi ini layak menjadi bacaan bagi mahasiswa, akademisi, aktivis lingkungan, praktisi hukum, serta masyarakat yang ingin memahami dinamika perjuangan lingkungan dan pembelaan hak-hak warga.

Pesan yang hendak ditinggalkan terasa sederhana, tetapi mendasar: hutan bukan semata-mata sumber keuntungan ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.

Sebagaimana pengingat yang dikutip dalam buku tersebut, perjuangan dilakukan agar “anak cucu tidak kepunahan telow temakol”. Ungkapan yang sarat makna itu menegaskan bahwa menjaga alam bukan hanya urusan hari ini, melainkan tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang.

Sebab, ketika hutan rusak dan hak masyarakat terabaikan, yang dipertaruhkan bukan sekadar bentang alam, tetapi juga masa depan kehidupan itu sendiri.

Identitas buku

– Judul: Dari Tanah Jantan Membela Hutan
– Penulis: Dr. Elviriadi
– Penyusun: Zurkarnain
– Peresensi: Zurfami
– Penerbit: Asa Riau (CV Asa Riau)
– Tebal: 156 halaman
– Cetakan: Pertama, 2026**

Spread the love

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *