
PEKANBARU, Derap1News – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) BERDAMPAK Universitas Riau (UNRI) – 2026 di Desa Tenggayun Raya, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, tidak hanya membawa program kerja, tetapi juga berhasil menghidupkan kembali ruang publik yang sempat lama kehilangan aktivitas.
Lapangan bola voli desa yang sebelumnya sepi dan jarang dimanfaatkan, kini kembali ramai dipenuhi warga setiap sore. Tawa, sorak-sorai, dan semangat kebersamaan kembali terasa berkat inisiatif mahasiswa KKN yang memilih olahraga sebagai media membangun interaksi sosial di tengah masyarakat.

Alih-alih langsung menggelar kompetisi, mahasiswa KKN terlebih dahulu mengadakan latihan bersama dan berbagai permainan (fun game) yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Pendekatan yang sederhana namun membumi itu berhasil membangkitkan minat warga untuk kembali beraktivitas di lapangan sekaligus mempererat hubungan antargenerasi.
Setelah antusiasme masyarakat tumbuh, mahasiswa kemudian menggelar Turnamen Bola Voli Tenggayun Raya Cup yang berlangsung pada 18 hingga 23 Juli 2026.
Turnamen tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Setiap sore, lapangan dipadati penonton dari berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, orang tua hingga para ibu rumah tangga larut dalam kemeriahan pertandingan yang berlangsung penuh sportivitas dan keakraban.
Lebih dari sekadar ajang olahraga, kegiatan itu menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan kembali warga dalam suasana yang hangat. Semangat gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial tampak tumbuh di setiap pertandingan yang digelar.
Ketua Penanggung Jawab Turnamen Voli KKN Desa Tenggayun Raya Cup, Satrio Susilo, mengatakan bahwa tujuan utama kegiatan tersebut bukan untuk mencari juara semata, melainkan menghidupkan kembali fungsi lapangan sebagai pusat aktivitas masyarakat.
“Tujuan utama kami bukan sekadar mencari siapa yang menang atau kalah, tetapi bagaimana lapangan ini kembali menjadi wadah berkumpulnya warga. Bukan soal mewah atau tidaknya hadiah, melainkan tumbuhnya semangat kebersamaan dan silaturahmi melalui olahraga voli yang menjadi kebahagiaan bagi masyarakat,” ujar Satrio.

Program tersebut menjadi contoh bahwa pelaksanaan KKN tidak selalu identik dengan pembangunan fisik atau penyuluhan. Melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mahasiswa mampu menghadirkan dampak sosial yang nyata, yakni menghidupkan kembali ruang publik yang sempat mati, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus menumbuhkan budaya hidup sehat melalui olahraga.
Selama hampir sepekan pelaksanaan turnamen, lapangan voli yang sebelumnya terbengkalai berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKN tidak hanya meninggalkan sebuah kegiatan seremonial, tetapi juga membangun semangat kolektif agar lapangan tersebut tetap dimanfaatkan sebagai ruang interaksi sosial setelah program KKN berakhir.
Semangat inilah yang menjadi esensi KKN Berdampak, yakni menghadirkan program yang tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus, tetapi meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan dan dilanjutkan oleh masyarakat dalam jangka panjang.**




Komentar