
Rokan Hilir,Derap1News – Upaya mendukung program Ketahanan Pangan (Ketapang) di wilayah Kecamatan Rimba Melintang menghadapi tantangan di lapangan. Tanaman jagung yang ditanam dalam program ketahanan pangan di Kepenghuluan Teluk Pulau Hulu dilaporkan mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus.
Kondisi tersebut terungkap saat personel Polsek Rimba Melintang melaksanakan kegiatan pengecekan dan pemantauan perkembangan tanaman jagung pada Selasa (9/6/2026) sekitar pukul 09.00 WIB di Dusun Al-Wadah, Kepenghuluan Teluk Pulau Hulu, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir.
Kegiatan monitoring dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Kepenghuluan Teluk Pulau Hulu, AIPTU MT Hadi, sebagai bagian dari pengawasan terhadap program ketahanan pangan yang tengah dikembangkan di wilayah hukum Polsek Rimba Melintang.
Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, tanaman jagung yang menjadi bagian dari program Ketapang tersebut mengalami kerusakan cukup signifikan akibat serangan hama tikus. Kondisi itu terjadi meskipun upaya pengendalian telah dilakukan sebelumnya dengan pemberian racun tikus untuk menekan populasi hama.
Kapolsek Rimba Melintang melalui laporan kegiatan yang disampaikan kepada Kapolres Rokan Hilir menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan tanaman jagung sekaligus mengidentifikasi kendala yang dihadapi para pengelola lahan.
Temuan gagal panen ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program ketahanan pangan. Selain faktor cuaca dan kondisi lahan, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti tikus masih menjadi salah satu ancaman utama bagi produktivitas pertanian, khususnya tanaman jagung.
Di sisi lain, program Ketahanan Pangan yang didorong pemerintah merupakan bagian dari upaya memperkuat ketersediaan pangan nasional dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Program ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu agenda strategis pembangunan nasional.
Pengamat pertanian menilai keberhasilan program ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan tanam, tetapi juga bergantung pada pendampingan teknis, pengendalian hama secara terpadu, serta keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Oleh karena itu, evaluasi terhadap faktor-faktor penyebab gagal panen menjadi penting agar program serupa dapat berjalan lebih efektif di masa mendatang.
Meski ditemukan kendala berupa serangan hama yang berujung pada gagal panen, kegiatan pengecekan berlangsung dalam keadaan aman dan kondusif. Hasil pemantauan tersebut selanjutnya menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan dan perbaikan pada musim tanam berikutnya.
Program Ketapang sendiri diharapkan tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dalam menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian, sehingga upaya mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan daerah dapat terus berlanjut secara berkesinambungan.(Rilis)**




Komentar