
Tapanuli Selatan, Derap1News — Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, namun juga menggugah rasa kemanusiaan banyak pihak. Di tengah situasi darurat tersebut, dua relawan — Dwika Juniarti dan Erando Mustuapari Harahap — melakukan aksi solidaritas yang patut diapresiasi dengan menembus daerah terdampak demi membantu puluhan pelajar asal luar daerah yang sedang menempuh pendidikan di Tapteng.
Keduanya berangkat awalnya sebagai orang tua yang ingin memastikan keselamatan anak mereka yang bersekolah di Almuslimin dan SMA Matauli Pandan. Namun kondisi lapangan membuat perjalanan itu berubah menjadi panggilan nurani. Dengan mengorbankan tenaga, waktu, pemikiran dan materi, keduanya turun langsung sebagai relawan Mapel Indonesia untuk membantu evakuasi sekaligus memastikan kebutuhan pelajar di lokasi aman.
Hasil kerja keras Dwika dan Erando berbuah nyata. Mereka berhasil membantu penyelamatan dan penanganan 52 pelajar yang berasal dari Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Mandailing Natal (Madina), Labuhan Batu hingga Asahan yang saat bencana terjadi sedang berada di Tapteng untuk menuntut ilmu.

Apresiasi dari sesama relawan
Saat dikonfirmasi di lokasi bencana, Sabtu (29/11/2025) di Pasar Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pengurus Mapel Indonesia Darwin Lubis menyampaikan penghargaan mendalam atas aksi kedua relawan tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi perjuangan dan dedikasi Dwika Juniarti dan Erando Mustuapari Harahap. Mereka bukan hanya bertindak sebagai keluarga, tetapi juga sebagai relawan yang bergerak atas nama kemanusiaan,” ujarnya.
Darwin yang juga Sekretaris DPD IPK Sumatera Utara menyebut keduanya merupakan bagian dari kader IPK serta pernah memegang jabatan Ketua DPD IPK Paluta. Ia menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan menjadi contoh bahwa kepedulian tidak membutuhkan panggung, melainkan niat tulus.

“Jika sesuatu dilakukan dengan hati, maka tujuan kita bukan materi, melainkan kemanusiaan. Dalam situasi seperti sekarang, kehebatan dan kekuatan manusia tidak ada artinya di hadapan Tuhan. Mari kita selamatkan bumi dan lestarikan lingkungan,” tutup Darwin.
Aksi dua relawan ini menjadi potret nyata bahwa bencana bukan hanya menyisakan duka, tetapi juga memunculkan keberanian dan gotong-royong. Ketika alam menguji, solidaritas manusia justru menemukan ruang paling terang untuk bekerja.(Rekondo)**




Komentar