
Tapteng,Batang Toru – Derap1News. Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kota Sibolga serta sejumlah kawasan di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menyisakan duka mendalam bagi ribuan keluarga. Hujan deras berkepanjangan memicu luapan sungai dan gelombang air besar yang datang seketika, merendam rumah warga, menyeret bangunan, memutus jalan lintas, dan memaksa masyarakat mengungsi dalam kondisi darurat.
Air bah yang tiba-tiba menyerbu pemukiman bukan hanya membawa lumpur, kayu dan puing, tetapi juga meninggalkan luka dan kehilangan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan anggota keluarga. Beberapa saksi mata mengaku hanya memiliki hitungan menit untuk menyelamatkan diri sebelum derasnya banjir menelan rumah mereka.
Melihat situasi kritis pasca-bencana, Masyarakat Pelestari Lingkungan (MAPEL) turun langsung memberikan bantuan ke beberapa desa terdampak di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Titik terparah yang menjadi fokus penanganan antara lain Pasar Huta Godang, Aek Ngadol, Sitinjak, Garoga Batu Horing, dan Huta Baru.

Untuk mempercepat penyaluran bantuan, para relawan mendirikan posko induk di Desa Sumuran di halaman Masjid Ar Ridho, yang kini menjadi sentral dapur umum, logistik dan koordinasi pencarian korban.
Sebanyak ±30 relawan MAPEL bergabung dengan masyarakat bersama OKP IPK, serta dukungan keluarga besar PAC IPK Batang Toru. Sebagian relawan datang dari luar daerah, termasuk Kota Medan dan Paluta, untuk memperkuat tenaga di lapangan
Belum Terlihat Basarnas–BPBD, Relawan Sebut Banyak Jenazah Masih Tertimbun
Sekretaris DPD IPK Sumut, Darwin Lubis, yang turun langsung pada 28 November 2025, menyampaikan bahwa penanganan di lokasi masih sangat terbatas, sementara korban terus ditemukan dari material banjir.
Dalam keterangannya kepada Derap1News, Darwin menegaskan:
“Bantuan sangat dibutuhkan di lokasi. Kami memerlukan alat berat seperti ekskavator, mobil damtruk, dan chainsaw untuk evakuasi dan pembersihan. Hingga hari ini, sejak 27 November, kami belum melihat kesiapan penuh dari Basarnas maupun BPBD sebagaimana yang seharusnya hadir saat tanggap darurat.”
Ia menjelaskan bahwa banyak warga menduga masih terdapat korban tertimbun dan hanyut terbawa arus, sementara proses pencarian masih mengandalkan relawan dan masyarakat setempat.
Selain kebutuhan alat berat, logistik pangan menjadi masalah mendesak, terutama pasokan beras yang semakin menipis. Warga di beberapa titik kesulitan memperoleh makanan karena akses transportasi terputus dan distribusi bantuan belum maksimal.
“Sudah dua hari kami di lokasi, dan jenazah masih ditemukan. Warga sangat membutuhkan bantuan untuk bertahan,” ujar seorang relawan MAPEL.
Harapan Warga: Pemerintah Hadir dan Bertindak Cepat
MAPEL bersama masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera menurunkan bantuan skala besar untuk membuka akses jalan, mempercepat pencarian korban hilang, serta memenuhi kebutuhan pengungsi seperti beras, obat-obatan, selimut, dan tenda darurat.
Bencana ini menjadi peringatan bahwa mitigasi dan sistem tanggap darurat harus lebih kuat, agar korban dapat tertolong lebih cepat saat bencana besar kembali terjadi.(Rekondo)**




Komentar