
Jakarta,Derap1News – Rencana PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 unit mobil pikap dari India memantik perdebatan di tengah publik dan pelaku industri otomotif nasional. Perusahaan beralasan, harga kendaraan asal Negeri Bollywood tersebut jauh lebih kompetitif dibandingkan model 4×4 yang saat ini beredar di pasar domestik.
Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, mengungkapkan pihaknya telah menandatangani perjanjian kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement/NDA) dengan dua produsen otomotif India, yakni Mahindra dan Tata Motors.
Karena itu, detail harga pembelian belum dapat dipublikasikan.
“Kami menandatangani NDA dengan Mahindra maupun Tata. Karena pembelian dilakukan secara bulk dalam jumlah besar, harganya hampir 50 persen lebih murah dibandingkan produk 4×4 yang saat ini beredar di Indonesia. ” Itu menjadi salah satu pertimbangan utama kami,” ujar Joao.
Bandingkan Harga Pikap 4×4 di Pasar Domestik
Pikap yang akan didatangkan Agrinas diketahui menggunakan sistem penggerak empat roda (4×4). Di pasar Indonesia, segmen ini sudah diisi sejumlah model dari pabrikan Jepang.
Untuk kategori double cabin 4×4, misalnya, Toyota Hilux saat ini dipasarkan dengan rentang harga sekitar Rp456,3 juta hingga Rp545,9 juta. Sementara Mitsubishi Triton dijual mulai kisaran Rp380 jutaan hingga Rp550 jutaan, tergantung varian dan spesifikasi.
Jika klaim Agrinas benar bahwa harga pikap impor tersebut hampir 50 persen lebih murah, maka banderolnya berpotensi berada di bawah kisaran Rp300 jutaan untuk segmen serupa.
Jejak Pikap India di Indonesia
Sejumlah model pikap asal India sebenarnya telah lebih dulu masuk pasar Tanah Air. Salah satunya Mahindra Scorpio Pik Up yang dipasarkan oleh RMA Group Indonesia sejak 2019. Model ini tersedia dalam varian single cabin dan double cabin.
Berdasarkan informasi resmi perusahaan, Scorpio Pik Up single cabin dibanderol sekitar Rp278 juta, sedangkan varian double cabin berada di kisaran Rp318 juta.
Harga tersebut menjadikannya salah satu alternatif di bawah dominasi merek Jepang pada segmen pikap 4×4.
Selain itu, Tata Yodha dan Tata Ultra T.7 juga diketahui pernah dipasarkan di Indonesia. Meski harga resminya tidak dipublikasikan secara luas, di pasar India kendaraan sekelas ini umumnya berada di kisaran Rp300 jutaan.
Industri Nasional Disorot
Meski menawarkan efisiensi anggaran, rencana impor dalam jumlah besar tersebut menuai kritik. Sejumlah pihak menilai industri otomotif nasional sebenarnya memiliki kapasitas produksi memadai untuk memenuhi kebutuhan kendaraan pikap, termasuk varian 4×4.
Kebijakan impor ini pun dinilai berpotensi memengaruhi daya saing produsen dalam negeri, terutama di tengah upaya pemerintah mendorong peningkatan kandungan lokal dan penguatan industri manufaktur nasional.
Hingga kini, Agrinas belum merinci jadwal kedatangan unit maupun skema distribusi kendaraan tersebut di dalam negeri. Polemik pun diperkirakan akan terus bergulir seiring pembahasan lebih lanjut mengenai dampaknya terhadap industri otomotif Indonesia.(Red)




Komentar