Opini
Beranda / Opini / Bakar Tongkang: Keberanian yang Menginspirasi Pembelajaran Hidup

Bakar Tongkang: Keberanian yang Menginspirasi Pembelajaran Hidup

Oleh: Edi Chan

derap1news – Setiap bulan Juni, kota kecil Bagan Siapi-api di Rokan Hilir, Riau, kembali menjadi pusat perhatian nasional bahkan internasional. Ribuan orang datang untuk menyaksikan sebuah tradisi unik yang dikenal dengan nama Bakar Tongkang. Sebagai warga keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Bagan Siapi-api, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan bahwa ritual ini bukan sekadar atraksi budaya, tapi juga sumber pelajaran berharga tentang sejarah, identitas, dan nilai kebersamaan.

Bakar Tongkang berakar dari kisah para leluhur etnis Tionghoa yang datang dari Fujian, Tiongkok, ratusan tahun lalu. Dalam perjalanan migrasi yang penuh tantangan, mereka akhirnya menetap di pesisir Riau. Sebagai bentuk tekad untuk tidak kembali ke tanah asal, mereka membakar kapal tongkang yang mereka tumpangi. Ritual ini kemudian diabadikan sebagai simbol keberanian untuk memulai hidup baru, dan dilestarikan hingga hari ini.

Bakar Tongkang mengajarkan kita tiga hal utama:

1, Sejarah Migrasi dan Integrasi Budaya
Acara ini membuka pintu pembelajaran tentang gelombang migrasi masyarakat Tionghoa ke Nusantara. Lebih dari sekadar perpindahan fisik, ini adalah kisah adaptasi, kerja keras, dan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan sosial di tanah baru.

2, Nilai Komitmen dan Keberanian Mengambil Keputusan
Membakar tongkang adalah metafora yang kuat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dihadapkan pada pilihan besar: apakah kita berani meninggalkan zona nyaman demi masa depan yang lebih baik? Ini adalah pelajaran tentang tekad dan keberanian, bukan hanya seremonial semata.

3, Pendidikan Multikultural dan Toleransi
Bakar Tongkang dirayakan tidak hanya oleh warga Tionghoa, tapi juga masyarakat dari berbagai etnis dan agama. Ini membuktikan bahwa warisan budaya bisa menjadi alat pemersatu, bukan pemisah. Bagi pelajar, guru, dan masyarakat luas, ini adalah kesempatan belajar hidup berdampingan dalam harmoni.

Saya percaya, jika tradisi ini dikemas dengan pendekatan edukatif yang tepat misalnya melalui integrasi dalam kurikulum lokal, pembuatan dokumenter, dan diskusi lintas sekolah maka Bakar Tongkang bisa menjadi laboratorium hidup pembelajaran budaya yang luar biasa. Bukan hanya untuk warga Riau, tapi untuk Indonesia secara keseluruhan.

Kepada pemerintah daerah dan institusi pendidikan, mari kita jadikan festival ini lebih dari sekadar tontonan tahunan. Mari ubah menjadi momentum pembelajaran yang membekas, terutama bagi generasi muda yang akan mewarisi tongkat estafet pelestarian budaya.

Karena sejatinya, merawat tradisi bukan hanya dengan mengulanginya, tapi juga memaknainya kembali dalam konteks zaman. (Chan)

Spread the love
Baca Juga  Selamat Sempurna Sitorus S.H M.H CPM : Vonis 2 Terdakwa Oknum Polisi Terlibat Narkoba di Rohil  Harusnya Maksimal

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *